Untukmu yang tercinta di sana,
Di sini aku ingin bercerita, tapi semua yang ada hanya membebankanku
untuk sekedar menyapa apalagi sampai menggemakan suara. Semua kerinduan
yang ada terlalu lemah untuk di simpan, karena ia begitu dahsyat adanya.
Sampai aku merasa terbanjiri oleh indahnya cinta sehingga berakhir
dengan meneteskan air mata yang sulit untuk kuduga kapan ia datangnya,
yang air mata ini selalu menitik saat menatap guratan wajahmu di gambar
atau sekedar mendengar salam darimu meskipun samar.
Untkmu yang ku cinta,
Ku harap takkan ada ucapan bosan darimu mendo’akanku, karena jika itu
terhenti maka apalah arti semua yang ada saat ini. Kini ku tak inginkan
harta melimpah untuk melanjutkan hidup yang sederhana, karena ku tahu
bahwa kehadirannya memang hanya meninggalkan bekas tak baik pada
akhirnya.
Ku tak inginkan jabatan yang membuatku serasa berada di atas segalanya,
karena saat ini pun ku tahu bahwa semua itu kan berlalu tanpa membuatku
bangga. Yang ku inginkan hanyalah kau, senyumanmu, garis senyum
bahagiamu. Yang takkan bisa tergantikan dengan apapun yang bisa mereka
beri padaku.
Untukmu yang ku cinta,
Bersabarlah akan hari pertemuan kita, hari yang kau dan aku nanti untuk
kedatangannya. Hari dimana kan ku buktikan bahwa aku bisa menjadi
seperti apa yang kau pinta. Bahwa aku bisa membuatmu tertawa bahagia
dengan apa yang akan aku bawa dan ku punya, seperti yang telah ku
janjikan sebelum ku melangkah kesini... Ke tanah Rantau.
Setiap detik rindu ini berpadu menjadi alunan doa syahdu untukmu, Setiap
hari rindu ini selalu menjadi semangat bagiku. Untukmu Ibu..
(IchsanAfriadi)






![lebihdarisekedar[dot]com Blogger](https://lh5.googleusercontent.com/-nKyPGV37QKE/VOk8DA-7VLI/AAAAAAAABIk/3m3VlIavNMQ/s64/blogger.png)



0 komentar:
Posting Komentar